Saturday , November 27 2021
Wirausaha Anak

Sekolah Sebagai Pencetak Wirausahawan Tangguh

Mari kita mulai pembahasan ini dengan mundur satu-dua langkah dari topik utama. Sebelumnya, kita akan meluruskan sebuah pemikiran yang berpotensi menyesatkan terlebih dahulu: bahwa agar sebuah negara bisa sejahtera, setidaknya 2% penduduknya harus berprofesi sebagai wirausaha(1). Klaim ini menyesatkan jika membuat pemerintah terpacu untuk mengejar target ini secara instan dengan mengobral investasi untuk mengubah sebanyak-banyaknya pegawai menjadi “pemilik perusahaan”. Jumlah wirausahawan yang menggunung memang baik, tapi jika hal ini tidak diikuti dengan tingginya kualitas para pengusaha maka perkembangan ekonomi tidak akan terjadi.

Hal ini dialami oleh India, sesuai dengan penuturan Manish Shabarwal, seorang wirausahawan sukses dan pengamat ekonomi India. Menurut Shabarwal, 50 persen penduduk India memiliki usaha sendiri. Tapi, usaha yang dilahirkan ada yang berbentuk “bayi” (akan berkembang seiring waktu) dan ada yang berbentuk “kerdil” (akan terus menerus memiliki skala kecil). Ini menunjukkan bahwa orang yang tak tepat akan melahirkan usaha yang tidak kuat. Data yang selaras juga diajukan oleh wartawan ekonomi Jordan Weissmann, yang menemukan bahwa hanya 30 persen wirausahawan Amerika yang memiliki produk yang inovatif. Sisanya? Hanya produk lama dengan merk yang baru. Weissmann juga menemukan bahwa usaha baru yang didirikan di Amerika ternyata tidak menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru, karena banyak dari wirausahawan ini yang ternyata hanya bekerja seorang diri. Hanya 2 sampai 3 persen pekerja Amerika yang terpakai oleh perusahaan baru.

Data-data di atas menunjukkan bahwa dimudahkannya kesempatan untuk menjadi entrepreneur tidak akan membantu jika penduduknya sendiri tidak siap untuk menjadi pengusaha mandiri. Karena itu, penulis menyimpulkan bahwa sebagian besar investasi untuk meningkatkan entrepreneurship justru harusnya dipakai untuk menyiapkan para bakal calon pengusaha, dan salah satu tempat yang paling cocok untuk melakukannya adalah di sekolah. Penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi tempat yang efektif untuk menyuburkan karakteristik dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan (Kourilsky & Walstad, 1998; Kourilsky & Esfandiari, 1997; dan Kourilsky & Carlson, 1996, dalam Kuip & Verheul, 2003). Penulis menggunakan frase “dapat menjadi”, karena sekolah memerlukan penyesuaian terlebih dahulu agar bisa menjalankan fungsi ini. Peran pemerintah adalah dengan mempercepat proses penyesuaian tersebut.

Menumbuhkan kepribadian dan kemampuan seorang wirausahawan bukanlah hal mudah. Terdapat empat tahapan untuk melakukannya. Pertama, adalah sosialisasi untuk membuka mata siswa bahwa entrepreneurship memiliki efek yang besar ke perekonomian negara (khususnya di Indonesia yang perekonomiannya di saat krisis tahun 1998 diselamatkan oleh usaha kecil) serta sebuah profesi yang sangat menarik. Kedua, adalah menumbuhkan karakteristik seorang wirausahawan melalui program pengajaran dan atmosfer di sekolah (terdapat sekitar 40 karakteristik kepribadian wirausahawan, yang akan dibahas Ruang Psikologi pada kesempatan yang berbeda). Ketiga, adalah diajarkannya kemampuan menangkap dan membuat business-opportunity. Dan yang keempat adalah menumbuhkan kemampuan manajemen dan bisnis. Beberapa penulis mengatakan bahwa sebaiknya langkah pertama dan kedua diajarkan pada saat SD, langkah ketiga pada saat SMP dan langkah keempat dikala siswa belajar di SMA. Tetapi, penulis lain mengatakan bahwa jika satu langkah sudah dikuasai, siswa dapat segera memasuki langkah berikutnya.

Seperti yang telah disebutkan di atas, jika sebuah sekolah ingin berperan dalam menumbuhkan karakteristik entrepreneurship siswa-siswanya, dibutuhkan sebuah revolusi dalam cara pengajaran yang diterapkannya. Hal ini disebabkan karena sistem pengajaran yang diterapkan oleh mayoritas sekolah saat ini ternyata cukup bertolakbelakang dengan kondisi yang dibutuhkan untuk menguatkan gaya berpikir ala entrepreneur.

Sistem pengajaran saat ini menitikberatkan kepada kepatuhan siswa dan kemampuannya untuk mengingat pengetahuan. Cara ini lebih cocok untuk mencetak pegawai yang bergantung kepada gaji dari perusahaan. Sedangkan untuk menjadi seorang entrepreneur, perkembangan pemikiran siswa tidak boleh disandarkan kepada bimbingan dari orang lain untuk mengasah insting usahanya. Ia juga harus lebih banyak belajar dari trial-and-error daripada menghafal. Daripada mengingat informasi dalam buku teks, siswa lebih baik ditekankan untuk terbiasa melihat kemungkinan-kemungkinan baru (creative thinking). Sekolah harus menyediakan kondisi di mana pembelajaran terjadi secara aktif dan berdasarkan pengalaman (siswa mempraktekkan sendiri apa yang dia pelajari).

Lebih jauh lagi, kemampuan untuk membuat inovasi baru ini bisa diajarkan dengan menciptakan suasana yang merangsang siswa untuk mengeluarkan dan menjalankan ide-idenya. Misalnya, dengan memberi kebebasan kepada siswa untuk menentukan ilmu apa yang akan ia coba untuk kuasai, dengan guru sebagai fasilitator dan bukan sebagai sumber pengetahuan (siswa secara aktif mencari sendiri pengetahuan yang ia inginkan). Atau, saat mempelajari suatu teori, guru bisa menekankan kepada relevansi praktis dari teori tersebut daripada sekedar menghafal, sehingga siswa dapat menerapkannya pada situasi yang baru. Yang tak kalah penting, siswa tak boleh takut untuk berbuat salah. Ia harus berani berbuat salah agar bisa belajar darinya dan tak mengulanginya lagi.

Tentu, cara belajar yang aktif ini memerlukan sokongan dari pemerintah. Diantaranya, dengan meng-upgrade guru dan sekolah agar bisa mengakomodasi sistem seperti ini. Jika sekolah berhasil mencetak siswa yang memiliki dorongan untuk menjadi wirausahawan, maka tanpa insentif apa pun, generasi berikutnya akan mencari kesempatan untuk membuka usaha sendiri dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

 

(1) Angka ini diklaim berasal dari seorang ahli psikologi, David McClelland, yang mana kami tidak menemukan dokumen di mana McClelland menyatakan hal tersebut.

Sumber:
Kuip, Isobel V.D. & Verheul, Inggrid. (2003). Early development of entrepreneurial qualities: the role of initial education. Scales Paper. Scientific Analysis of Entrepreneurship and SMEs initative: Netherland.

http://www.economist.com/node/13216037

http://www.theatlantic.com/business/archive/2012/10/think-were-the-most-entrepreneurial-country-in-the-world-not-so-fast/263102/

http://entrepreneurindia.in/opinion/insights/the-government-needs-to-boost-entrepreneurship-in-the-country/17172/