Friday , October 22 2021

Distraksi “Mematikan” Menjadi Dampak Negatif Dari Internet

Di zaman serba cepat dan ditenagai teknologi ini, Internet seakan menjadi pilar utama dari setiap komunikasi. Penelitian yang dilakukan oleh CourseSmart dan Wakefield Research terhadap 500 mahasiswa menghasilkan penemuan bahwa 73% dari responden tidak dapat belajar tanpa dukungan teknologi (Internet via komputer, smartphone, dan lain sebagainya). Menariknya, 38% dari mereka tidak mampu untuk fokus lebih dari 10 menit tanpa memeriksa laptop, smartphone, atau gadget lainnya (Kessler, 2011).

Internet memang menjadi alat komunikasi paling diandalkan dan cepat saat ini untuk mencari informasi, mengekspresikan diri sendiri, serta berkomunikasi dengan orang lain. Penggunaan Internet sambil melakukan pekerjaan lain bukan hal yang baru lagi. Seringkali kita mengerjakan tugas sambil membalas chat teman di smartphone atau sekedar update status di salah satu social media.

Namun, beberapa peneliti menemukan dampak negatif dari Internet, dalam multitasking ini. Misalnya, penggunaan internet oleh mahasiswa untuk berkomunikasi via Instant Messenger di saat belajar atau mengerjakan tugas, ternyata membuat nilai-nilai akademis mereka menurun (Junco & Cotton, 2012). Sedangkan menurut Nicholas Carr (2010), multitasking dengan melibatkan teknologi ternyata menyebabkan seseorang cenderung untuk memiliki pemikiran yang dangkal.

Internet tak hanya ‘mengajari’ kita untuk pandai mencari informasi, namun tanpa disadari, internet berperan menjadi distraksi mematikan yang ‘mengajari’ penggunanya untuk ber-multitasking. Menurut Carr (2010), Internet merebut perhatian penggunanya hanya untuk memecah belah perhatiannya lagi. Kita cenderung fokus pada medium Internet tersebut, namun karakteristiknya yang rich dengan banyaknya informasi, berbagai tombol klik, hingga iklan, membuat perhatian kita terpecah-belah. Tanpa disadari, kita pun memiliki refleks yang lebih baik atau kordinasi yang baik antara mata dan tangan untuk pindah dari satu tab ke tab lain.

Baca Juga:  Agar Siswa Lebih Pintar, Kenali Learning Stylenya

Lalu apa yang membuat berbagai kemampuan penggunanya menurun karena Internet? Menurut Carr (2010), sama halnya seperti otot, bagian otak tertentu dapat dilatih dengan kemampuan tertentu. Dengan menggunakan Internet, tanpa disadari, kita ‘melatih’ otak untuk terbiasa dengan distraksi dan perhatian yang tercerai berai. Sementara kita malah ‘mematikan’ bagian ‘intelektual’ otak yang seharusnya memiliki peranan untuk pemikiran kreatif dan mendalam—dengan tidak melatihnya sebanyak biasanya. Karena itulah, dengan Internet kita memiliki kemampuan baru yang sayangnya cukup dangkal, yang tidak memiliki peranan besar pada kreatifitas atau intelektualitas tadi.

Pada dasarnya, pemikiran kreatif dan mendalam ini melibatkan proses kerja otak untuk mengantarkan informasi dari working memory ke long term memoryWorking memory pada otak manusia ternyata memiliki kapasitas maksimum, sehingga jika kita tidak melatih bagian ini untuk memastikan proses transfer informasi ke long term memory berjalan lancar, sudah pasti informasi tersebut perlahan akan hilang dari otak.

Dengan informasi berlimpah dan beragam, Internet berperan dalam membuat working memory kita menjadi penuh dan cenderung melebihi kapasitas. Inilah yang menyebabkan proses transfer working memory ke long term memory tidak berjalan lancar. Ketika kita terlalu banyak ‘melahap’ informasi, maka tak jarang jika kita akan kesulitan untuk membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan.

Lalu bagaimana cara kita mencegah dampak negatif yang telah dijelaskan oleh fakta-fakta di atas? Menutup akses sepenuhnya pada Internet bukanlah tindakan yang bijak. Distraksi yang dikandung oleh Internet selamanya tetap ada. Yang harus dilakukan pengguna Internet adalah mencoba mengontrol distraksi yang terekspos ke panca indera kita. Menurut Hacker, Dunlosky, dan Graesser (1998), caranya adalah meningkatkan kesadaran metacognitive (bagaimana seseorang dengan sadar dan sengaja mampu untuk memonitor dan mengatur segala tindakan dan proses, termasuk kondisi kognitif dan afeksi diri sendiri ) yang kita miliki. Dengan pengetahuan metacognitive yang baik, seseorang akan tahu kapan saat yang tepat untuk ‘terdistraksi’ dan fokus pada suatu tugas atau pekerjaan.

Baca Juga:  Perkembangan Moral Yang Sehat Pada Anak

Mau tahu lebih banyak tentang mengapa kita mudah sekali terdistraksi oleh informasi? Video sepanjang empat menit ini memberikan penjelasan yang cukup simple dengan animasi yang menarik:

 

Baca juga penjelasan kenapa multitasking itu sendiri berbahaya bagi kualitas belajar atau pekerjaan kita di artikel minggu lalu dengan meng-klik link ini. Berbekal dua informasi ini, semoga kamu bisa meningkatkan performa otak kamu dalam melakukan aktivitasmu sehari-hari, ya.

 

Daftar pustaka:

  • Carr, N. (2010). The Juggler’s Brain. In: Phi Delta Kappan, 92(4), 8-14
  • Junco, R. & Cotton, S.R. (2012). No A 4 u: The relationship between multitasking and academic performance. Computers & Education, 59, 1-10
  • Hacker, D. J., Dunlosky, J., & Graesser, A.C. (1998). Metacognition in educational theory and practice. Mahwah, NJ: Erlbaum
  • Kessler, S. (2011). 38% of college students can’t go 10 minutes without tech [STATS]. Mashable Tech <http://mashable.com/2011/05/31/college-tech-device-stats/>