Friday , October 22 2021

Dampak Positif dan Negatif MultiTasking: Pilih Kuantitas atau Kualitas?

Multitasking bukan hal yang baru dalam keseharian kita. Tanpa disadari, kita seringkali melakukan beberapa hal bersamaan dalam satu waktu. Dari mulai menyetir sambil mendengarkan musik, mencatat sambil mendengarkan penjelasan dosen, atau bahkan mengerjakan tugas sambil membalas chat teman. Multitasking memang menghemat waktu sekaligus memungkinkan kita melakukan banyak hal ‘sekali jalan’. Tetapi tahukah bahwa multitasking itu memiliki sisi negatif yang patut kita waspadai?

Sebelum membahas sisi negatifnya, mari kita bedah terlebih dahulu fenomenon multitasking menggunakan teori Unified theory of the Multitasking Continuum yang dibuat oleh tiga orang peneliti: Salvucci, Taatgen dan Borst (2009). Menurut teori ini, multitasking dapat dibagi menjadi dua jenis jika dillihat dari rangkaian kejadiannya.

Pertama, adalah bentuk multitasking di mana dua kegiatan atau lebih dilakukan pada saat yang bersamaan (concurrent). Menyetir sambil mendengarkan musik adalah salah satu contohnya. Pada concurrent multitasking, minimal dua fungsi indera (sensory modalities) yang berbeda akan terlibat. Dari contoh di atas, kita lihat bahwa indera yang berfungsi adalah mata dan telinga.

Jenis yang kedua adalah sequential multitasking, yaitu saat dua tugas dilakukan secara berurutan tanpa menyelesaikan tugas yang pertama terlebih dahulu. Pada multitasking jenis ini, sensory modalities yang sama akan terlibat sehingga akan ada waktu yang dibutuhkan untuk berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Contoh dari sequential multitasking adalah membalas chat teman saat sedang membaca bahan pelajaran. Kedua kegiatan tersebut memerlukan fungsi visual kita.

Multitasking dapat memberikan hasil yang buruk karena kegiatan tersebut mengganggu kinerja otak kita. Kenapa? Karena saat mengerjakan suatu tugas, otak kita melakukan empat pekerjaan sekaligus. Empat pekerjaan otak ini dikenal dengan istilah ACT-R architecture, dan isinya adalah sebagai berikut:

  • Pertama, mengaktifkan Declarative Memory, yaitu memori tentang pengetahuan, instruksi, ingatan masa lalu, dan sebagainya. Misalnya, saat akan memasak telur, kita harus mengingat resepnya, tahu peralatan yang diperlukan, tahu cara menghidupkan kompor, dan lain-lain.
  • Kedua, membuat Goal Module, atau, apa yang ingin kita capai saat melakukan suatu hal. Contohnya, saat memasak telur, kita harus tahu apakah hasil akhirnya telur dadar, telur ceplok setengah matang, telur ceplok matang, dan sebagainya.
  • Membuat Problem Representation, yaitu gambaran dari masalah yang akan sedang kita kerjakan. Saat memasak telur, kita harus tahu apakah telurnya harus dibeli dulu atau sudah tersedia? Apakah perlu pakai sarung tangan anti panas, dan lain-lain. dan
  • Mengaktifkan Procedural Memory Module yang mengatur dan mengawasi interaksi antar modul.
Baca Juga:  Perkembangan Moral Yang Sehat Pada Anak

Keempat modul dari ACT-R architecture dapat bekerja pada saat yang bersamaan, namun hanya mampu fokus pada satu jenis pekerjaan saja. Jika ada dua pekerjaan serupa dan membutuhkan problem representation module yang rumit, dan/atau membutuhkan modul penyelesaian yang sama pada waktu bersamaan, maka salah satu pekerjaan harus menunggu untuk menggunakan modul terkait. ‘Masa menunggu’ inilah yang menyebabkan adanya keterlambatan dalam penyelesaian salah satu pekerjaan.

Contohnya, jika kita menyetir mobil sambil menonton film atau mendengarkan musik. Jika ada satu adegan atau lagu yang sangat berkesan bagi kita (misalnya karena ditonton bersama mantan pacar yang masih disukai), maka kapasitas otak yang dipakai dapat mengganggu kegiatan menyetir. Saat goal module otak sedang sibuk “mengenang masa indah yang dulu dirasakan”, goal module untuk “mengerem saat mobil di depan tiba-tiba berhenti” bisa terganggu.

Penjelasan lain dari bahaya multitasking adalah ketika seseorang melakukan hal baru sebelum kegiatan yang lama terselesaikan. Target penyelesaian kegiatan baru ini akan berada di ingatannya melebihi target penyelesaian pekerjaan yang sebelumnya. Saat kita selesai dengan hal baru lalu kembali menyelesaikan pekerjaan sebelumnya, akan dibutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjan lama ini (Rosen, Carrier, Cheever, 2013). Misalnya, jika kamu membalas chat teman saat berada di tengah halaman sebuah buku pelajaran. Jika tempat membacamu tidak ditandai dengan baik, maka pertanyaan yang sering keluar kemudian adalah, “tadi sudah baca sampai mana, ya?”

Walaupun rasanya seperti powerful bisa melakukan beberapa hal sekaligus, tetapi jangan berharap terlalu banyak untuk menghasilkan pekerjaan yang berkualitas lewat multitasking, terutama sequential multitasking. Jadi, mau pilih yang mana? Kualitas atau kuantitas?

 

Baca Juga:  Mengurangi Dampak Negatif Multitasking

Sumber:

  • Salvucci, Dario D., Taatgen, Niels A., Borst, Jelmer P. (2009). Toward a Unified Theory of the Multitasking Continuum: From Concurrent Performance to Task Switching, Interruption, and Resumption. Proceedings of the SIGCHI conference on human factors in computing systems: CHI 2009 (pp.1819-1829). New York: ACM Press.
  • Rosen, Larry D., Carrier, Mark L., Cheever, Nancy A. (2013). Facebook and texting made me do it: Media-induced task-switching while studying. Computers in Human Behavior, 29 (2013), 948-958