Friday , October 22 2021

Mengurangi Dampak Negatif Multitasking

Belajar atau mengerjakan tugas sambil ‘ditemani’ handphonelaptop, atau gadget lain sepertinya bukan hal yang baru lagi. Seperti yang pernah dibahas di artikel sebelumnya mengenai Distraksi ‘Mematikan’ dari Internet, penelitian dari CourseSmart dan Wakefield Research mengungkap bahwa mayoritas mahasiswa sebagai respondennya tidak dapat belajar tanpa dukungan teknologi dan tidak mampu untuk fokus lebih dari 10 menit tanpa memeriksa laptop, smartphone, atau gadget lainnya (Kessler, 2011). Penelitian serupa dari Rosen, Carrier, dan Cheever (2013) juga mengungkap bahwa para pelajar yang menjadi partisipan dalam penelitian ini hanya mampu fokus pada tugas mereka saat itu (belajar atau mengerjakan tugas) selama sekitar 6 menit sebelum berpindah pada distraksi teknologi di sekitar mereka. Apakah kamu juga seperti itu?

Beberapa penelitian juga sudah membuktikan bahwa kegiatan multitasking yang dilakukan pelajar/mahasiswa—antara tugas atau kuliah dan gadget atau social media—memberikan dampak buruk untuk nilai-nilai akademik. Pelajar yang menghabiskan banyak waktu untuk chatting saat mengerjakan tugas memiliki nilai rata-rata yang rendah (Junco & Cotton, 2011). Penelitian yang sama dengan responden mahasiswa juga mengungkap hasil yang sama (Junco & Cotton, 2012). Selain itu, multitasking di dalam kelas saat guru atau dosen sedang mengajar pun juga berdampak pada menurunnya nilai-nilai akademis (Wood et.al, 2012)

Menggunakan handphone memang mengasyikan. Banyak hal menarik dan baru yang kita dapatkan hanya dengan klik aplikasi ini dan itu. Kadang notifikasi SMS saja sudah membuat kita penasaran untuk mengetahui siapa pengirimnya dan apa pesannya. Tak jarang, handphone digunakan kapan saja dan dimana saja, bahkan ketika sedang berada di dalam kelas sekalipun. Oulasvirta, Rattenbury, Ma, dan Raita (2012) menyebut dalam penelitiannya bahwa handphone merupakan alat yang menimbulkan kebiasaan pada manusia (habit forming), karena mengakibatkan adanya checking habit—kebiasaan untuk memeriksa layar handphone dengan rutin.

Baca Juga:  Agar Siswa Lebih Pintar, Kenali Learning Stylenya

Mengapa kebiasaan seperti itu muncul? Salah satu alasannya bisa dijelaskan dengan menggunakan sudut pandang Operant Conditioning Theory dari Skinner. Checking habit muncul karena adanya reward positif yang hanya sesekali kita dapatkan. Misalnya kabar baik lewat SMS, update seru dari teman lewat social media¸ dan lain sebagainya. Karena frekuensinya yang hanya sesekali, kita jadi termotivasi untuk terus-menerus memeriksa handphone karena siapa tahu kali ini ada reward positif lagi.

Multitasking juga dapat dijelaskan dengan sudut pandang teori Uses and Gratification (Rubin, 2009). Menurut teori ini, kita memiliki banyak kebutuhan yang mencakup kebutuhan emosional, kognisi, sosial , dan kebiasaan lain yang semuanya itu perlu dipuaskan lewat penggunaan media-media tertentu. Sedangkan Wang dan Tchernev (2012) berpendapat bahwa multitasking ternyata tidak memuaskan kebutuhan kognisi, namun lebih ke kepuasan emosional. Menurut mereka lagi, inilah yang menyebabkan para pelajar senang ber-multitasking ketika sedang belajar.

Dengan memahami teknologi dan multitasking yang cukup dekat dengan generasi muda, sebenarnya hal ini dapat menantang kita, khususnya institusi pendidikan dan orang tua, untuk menemukan pendekatan baru dalam mengajar. Melarang sepenuhnya penggunaan teknologi di kelas, misalnya, bukan tindakan yang bijak. Dengan ‘menghilangkan’ distraksi eksternal seperti ini, bukan berarti distraksi internal (dorongan dari dalam diri) akan ikut hilang. Mungkin rasa cemas dan was-was karena tidak bisa memeriksa handphone malah mendominasi.

Salah satu solusinya adalah technology break (Rosen et.al, 2012). Mirip dengan coffee break, technology break yang diaplikasikan di jam-jam belajar misalnya akan memberikan kesempatan kepada para pelajar atau mahasiswa untuk mengakses gadget mereka di waktu yang tepat. Dalam penelitiannya, Rosen et.al (2012) mengaplikasikan technology break selama 1 menit diikuti sesi belajar selama 15 menit. Ternyata, pendekatan semacam ini dapat membantu meningkatkan fokus dan pembelajaran para respondennya.

Baca Juga:  Perkembangan Moral Yang Sehat Pada Anak

 

Referensi:

  • Kessler, S. (2011). 38% of college students can’t go 10 minutes without tech [STATS]. Mashable Tech <http://mashable.com/2011/05/31/college-tech-device-stats/>
  • Oulasvirta, A., Rattenbury, T., Ma, L., & Raita, E. (2012). Habits make smartphone use more pervasive. Personal and Ubiquitous Computing, 16(1), 105–114.
  • Rosen, L. D., Whaling, K., Rab, S., Carrier, L. M., Cheever, N. A. (2012). Is Facebook creating ‘‘iDisorders’’? The link between clinical symptoms of psychiatric disorders and technology use, attitudes and anxiety. Computers in Human Behavior, in press.
  • Rosen, Larry D., Carrier, Mark L., Cheever, Nancy A. (2013). Facebook and texting made me do it: Media-induced task-switching while studying. Computers in Human Behavior, 29 (2013), 948-958
  • Rubin, A. M. (2009). Uses-and-gratifications perspective on media effects. In J. Bryant,& M.B. Oliver (Eds.), Media effects: Advances in theory and research(pp. 165–184).
  • Wang, Z., & Tchernev, J. M. (2012). The ‘‘myth’’ of media multitasking: Reciprocal dynamics of media multitasking, personal needs, and gratifications. Journal of Communication, 62, 493–513.
  • Wood, E., Zivcakova, L., Gentile, P., Archer, K., De Pasquale, D., & Nosko, A. (2012). Examining the impact of off-task multi-tasking with technology on real-time classroom learning. Computers & Education, 58, 365–374