Friday , October 22 2021

5 Tips Untuk Meningkatkan Memori Otak

Di artikel sebelumnya, Ruang Psikologi mengajak kamu mengenali sifat-sifat data yang tertanam secara permanen di otakmu (long-term memory) agar lebih mudah diingat saat dibutuhkan. Sekarang, kita masuk penjelasan mengenai bentuk ingatan di dalam otak kita. Jika kita sudah memahami bagaimana cara otakmu menyimpan informasi, kamu bisa membentuk sebuah sistem yang memudahkanmu memanggil kembali informasi tersebut.

Coba bayangkan sebuah pisang, apa yang terbayang? Ada dari kamu yang “melihat” tulisan pisang di depan mata kamu. Ada yang melihat sebuah pisang melayang di udara. Ada yang merasakan rasa manis pisang di lidah kamu. Ada yang mengingat “makanan monyet”. Dan ada yang memiliki kombinasi dari beberapa hal di atas.

Masing-masing orang menyimpan memori dalam bentuk yang mereka suka. Tapi kalau kamu mau memori itu lebih mudah dipanggil, simpanlah memori dalam beberapa bentuk. Jadi, tips #3 adalah coba pelajari materi pelajaran dalam berbagai bentuk. Kalau kamu sudah selesai membaca teorinya, coba cari videonya di youtube atau coba praktekkan di dunia nyata. Maka, memori akan tersimpan dalam bentuk kata-kata dan gambar atau rasa saat kamu praktekkan. Tips #4 adalah, saat membuat catatan, buatlah dalam beberapa bentuk. Misalnya, setelah kamu menuliskan definisi sebuah fenomenon fisika (kata-kata), coba gambarkan fenomenon itu di atas definisinya (gambar) atau pergi ke lab dan praktekkan (semantik). Cara lain, setelah kamu mencatat nama ibukota Jakarta setelah direbut Fatahillah sebagai Jayakarta (kata), coba pelajari apa emosi yang dirasakan tokoh tersebut saat merebut Jakarta, yaitu kemenangan alias jaya, maka kamu tahu kenapa namanya Jayakarta (semantik).

Proses manusia menyimpan memori juga memengaruhi kualitas ingatan tersebut. Cara yang paling tidak efektif adalah dengan mengulang-ulang hal yang dipelajari. Misalnya, dalam mengingat bagian-bagian otak, kamu bisa mengulang-ulang bagiannya, “frontal lobe-parietal lobe-occipital lobe… frontal lobe-parietal lobe-occipital lobe… frontal lobe (berbusa)…”. Cara ini kurang efektif karena tidak ada keterkaitan antara bahasa teknis tersebut dengan kehidupan sehari-hari atau pengetahuan yang kamu miliki sebelumnya (ingat konsep interrelatedness).

Baca Juga:  Agar Siswa Lebih Pintar, Kenali Learning Stylenya

Cara kedua adalah dengan memberikan arti pada pelajaran, yang disebut meaningful learning. Masih mengenai cara mengingat bagian otak, kamu akan lebih mudah mengingatnya jika mengerti bahwa arti dari frontal lobe adalah “bagian depan” karena dikaitkan dengan bahasa Inggris, front. Lalu, pengetahuan ini ditabrakkan dengan pengetahuan bahwa occipital lobe adalah lawannya dari frontal lobe, sehingga front versus back membuat kamu ingat bahwa occipital lobe letaknya di belakang. Setelah tahu frontal ada di depan dan occipital ada di belakang, kamu bisa simpulkan bahwa parietal lobe ada di tengah. Cara lain adalah dengan mengelus bagian depan kepala kamu dan berbisik, “frontal”, lalu elus bagian belakang dan berbisik, “occipital” dan ke tengah dan berbisik, “parietal”.

Cara ketiga berguna untuk memperkuat proses meaningful learning, yaitu elaborate. Kamu akan lebih mudah mengingat kalau bisa mengembangkan pengetahuan ini lebih jauh. Caranya bisa dengan (tips #4) membuat kesimpulan dengan kata-katamu sendiri, (tips #5) mencari contoh-contoh lain selain dari apa yang kamu baca, atau mencari tahu latar belakang dari fenomenon yang kamu pelajari. Cara lain untuk meng-elaborasi pengetahuan yang baru kamu dapatkan adalah dengan (tips #6) mencari tahu di mana kamu bisa menggunakan pengetahuan itu. Misalnya, dalam pelajaran fisika gerak parabola, kamu bisa menggunakannya untuk memperkirakan apakah tendangan pisang yang dilakukan Beckham akan gol atau tidak.

Kamu akan lebih mudah mengingat kalau bisa mengembangkan pengetahuan ini lebih jauh.

Cara keempat adalah visual imagery alias membayangkan kejadiannya (tips #7). Saat belajar mengenai gerak lurus berubah beraturan, coba bayangkan mobil yang menambah kecepatan dan mengerem. Saat mempelajari reaksi kimia, bayangkan dua buah bulatan besar yang dikelilingi bulatan-bulatan kecil, lalu bayangkan bulatan besar ini saling bertukar bulatan-bulatan kecil. Visual imagery ini juga akan sangat membantu meaningful learning.

Kita tutup penjelasan ini dengan cara kelima dari proses perekaman long-term memory, yaitu organize. Buatlah catatan mengenai kategori-kategori dari pengetahuan yang kamu dapatkan (tips #8). Misalnya, dalam mempelajari kemerdekaan Indonesia, kamu bisa mengelompokkan dari 1) kejadian di perang dunia II yang berisi kekalahan Jepang, 2) persiapan tokoh Indonesia dalam mencerdaskan bangsa seperti gerakan Ki Hajar Dewantara, dan 3) pergerakan pemuda Indonesia yang berisi berdirinya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, penculikan Rengasdengklok dan lain-lain.

Nah, artikel ini sengaja dibuat sedikit berantakan, nih. Coba, deh, praktekkan langkah organize di atas.

Kamu bisa mengkategorikan berdasarkan “sifat long term memory dan proses perekaman long term memory”, berdasarkan “tips-tipsnya”, dan lain-lain. Jangan lupa untuk menjalankan tips-tips yang ada, ya. Misalnya, gambarkan prosesnya, kaitkan dengan pengetahuan yang telah kamu miliki, buat contoh dan kesimpulanmu sendiri, dan seterusnya.

Baca Juga:  Alat Mencari Jati Diri: Pendidikan

Selamat mengingat cara untuk mengingat!

Sumber yang dipakai:

Ormrod, Jeanne Ellis. (2006). Educational Psychology: Developing Learners (5th edition). New York: Pearson Education.