Friday , October 22 2021

Agar Siswa Lebih Pintar, Kenali Learning Stylenya

Pelajar adalah investasi terpenting setiap bangsa, oleh karena itu sudah semestinya mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas tentunya meliputi banyak aspek seperti bangunan sekolah yang layak pakai, fasilitas yang memadai dan buku pelajaran dengan ilmu yang up-to-date. Semuanya perlu disediakan walau dengan biaya yang besar. Tapi ada satu aspek pendidikan berkualitas yang memberikan hasil jauh lebih besar dari biaya yang dipakai untuk menciptakannya: guru yang efektif.

Guru adalah kunci dari sebuah proses pembelajaran. Seberapa banyak ilmu yang berhasil diserap siswa tergantung dari guru itu sendiri. Ada banyak sekali kompetensi yang perlu dimiliki guru agar tujuan dari pendidikan bisa dicapai dengan baik, diantaranya, kompetensi pedagogik atau mengetahui teknis mengajari anak, kompetensi kepribadian, kompetensi profesionalisme, serta kompetensi sosial (Kurnia, 2013). Pada kesempatan ini, penulis akan membahas salah satu kompetensi pedagogik, yaitu, menyesuaikan pengajaran dengan gaya belajar siswa.

Bostrom (dalam Ghofur, dkk., Tanpa Tahun) menyatakan bahwa guru yang menyadari perbedaan gaya belajar siswa, akan lebih terorientasi pada peningkatan proses maupun hasil belajar dan lebih terbuka terhadap perubahan. Seorang guru harus mengetahui bahwa karakteristik pelajar di kelasnya berbeda-beda. Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh Putro (2011) menemukan bahwa gaya belajar berpengaruh terhadap hasil belajar sebesar 54,5%.

Salah satu teori gaya belajar yang dianggap sesuai dengan cara kerja otak adalah Experiential Learning Theory (ELT) milik Kolb (Kolb & Kolb, 2005). Dalam ELT, dikatakan bahwa pengetahuan di otak kita tercipta saat kita mendapatkan pengalaman. Kemudian, saat kita mendapatkan pengalaman baru, pengetahuan kita akan bertransformasi. Menjadi lebih lengkap jika pengalaman barunya sesuai dengan pengalaman lama, atau berubah jika pengalaman barunya berlawanan dengan pengalaman lama (Kolb dalam Kolb, dkk., 2005).

Sebagai contoh, mungkin saat kecil kita menganggap sebuah pohon dihuni oleh hantu karena sering mengeluarkan suara yang aneh. Pengetahuan ini berubah saat ketika kita besar kita menemukan bahwa suara aneh tersebut disebabkan oleh sekeluarga tupai yang sudah tinggal di dalam pohon itu selama turun temurun.

Baca Juga:  Alat Mencari Jati Diri: Pendidikan

Kolb mengatakan bahwa dalam membentuk pengetahuan, ada empat moda (proses) yang berjalan (McLeod, 2010):

  1. Concrete Experience (CE). Seseorang menemukan pengetahuan baru dari apa yang dialami. Misalnya, bahwa api itu panas saat tak sengaja menyentuhnya atau bahwa manusia perlu bantuan orang lain untuk bisa hidup saat minta dibuatkan makanan kepada orang tua.
  2. Abstract Conceptualization (AC). Individu membentuk konsep dari pengalaman yang mereka alami. Proses belajar pada tahap ini lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Misalnya, karena jika terkena api maka tangan akan sakit, jangan bermain api kecuali jika kita memang berniat membakar sesuatu. Atau, karena manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain, maka kita harus saling menolong.
  3. Reflective Observation (RO). Individu membandingkan pengetahuan lama dan pengetahuan baru, lalu mengambil kesimpulan baru. Contoh, karena tahu api itu berbahaya tapi panasnya dibutuhkan saat kemping di tempat yang dingin, maka dicarilah jarak yang optimal agar panasnya terasa tanpa membakar tubuh atau tenda. Atau, karena menolong orang lain itu baik, tapi di dunia ini banyak penipu yang hanya mencari keuntungan, dibuatlah karakteristik orang yang memang pantas kita tolong.
  4. Active Experimentation (AE). Seseorang belajar melalui tindakan (doing), yaitu melihat jika mereka mengubah-ubah suatu kondisi. Misalnya, dengan mengubah katup kompor gas, nyala api bisa diatur sehingga tingkat kematangan suatu masakan bisa diatur. Atau, melihat apakah orang akan tetap baik kepada kita jika kita memberikan senyum setelah ditolong, dibandingkan dengan jika kita memberi uang.

Nah, gaya belajar terbentuk dari kombinasi satu moda dengan moda lainnya. Hal ini terjadi karena seseorang biasanya memiliki dua moda yang dominan. Gaya belajar tersebut dibedakan menjadi empat tipe. Berikut adalah ciri-cirinya dan bagaimana bentuk pengajaran yang tepat bagi pemilik gaya belajar tersebut:

  1. Diverger (mencari informasi seluas-luasnya)

Gaya belajar ini adalah gabungan antara CE dan RO, yaitu belajar dari merasakan langsung lalu membuat kesimpulan baru dari pengalaman itu. Siswa yang memiliki gaya belajar ini sangat baik melihat situasi konkrit dari banyak sudut pandang. Sangat baik dalam menerapkan ide-ide di situasi yang berbeda.
Mereka gemar mengumpulkan berbagai informasi serta menyukai isu tentang kebudayaan dan seni, tertarik pada orang lain, cenderung imajinatif dan emosional. Mereka biasanya lebih banyak mengeluarkan pertanyaan “kenapa?” saat melihat suatu fenomena.
Cara belajar yang paling tepat adalah belajar kelompok dan peran guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai Motivator agar mereka sebanyak-banyak mencari informasi.

  1. Assimilator (membuat kesimpulan logis)

Siswa ini dominan di AC dan RO, yaitu membentuk konsep dari pengetahuan baru yang didapat. Saat mendapatkan banyak informasi, mereka akan menyusunnya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas.
Siswa jenis ini lebih teoritis, lebih suka membahas abstrak daripada bekerja dengan orang. Pertanyaan yang biasanya keluar adalah “apa”?
Dalam situasi belajar formal mereka lebih menyukai bacaan, ceramah, dan menganalisis. Peran guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai sumber pengetahuan.

  1. Converger (pencari manfaat praktis)

Terdiri dari moda AC dan AE, yaitu membuat konsep dan melihat konsep itu bekerja di lapangan. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Lebih menyukai bekerja yang berhubungan dengan benda dari pada manusia, masalah sosial atau hubungan antar pribadi, karena lebih suka mencari tahu bagaimana suatu benda bisa bergerak atau menjalankan fungsinya.

Baca Juga:  Sekolah Sebagai Pencetak Wirausahawan Tangguh

Dalam situasi belajar formal mereka lebih menyukai belajar eksperimen, tugas laboratorium, atau hal yang bisa dipraktikkan lainnya. Fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Pelatih, yang dapat menyediakan praktik terbimbing dan dapat memberikan umpan balik yang tepat.

  1. Accomodator (belajar dengan mencoba)

Moda yang dominan adalah CE dan AE, sehingga belajar dengan langsung mempraktekkan apa yang perlu dipelajari kemudian memvariasiannya sendiri. Mereka suka melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru yang menantang. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi daripada berdasarkan analisa logis.

Dalam usaha menghadapi masalah, mereka lebih suka menanyakan pendapat orang daripada menganalisa sendiri. Dalam situasi belajar formal, mereka menyukai belajar dengan orang lain. Dalam berhadapan dengan siswa tipe ini, berikanlah tantangan atau soal yang jawabannya tidak saklek, sehingga memaksimalkan kesempatan siswa untuk mempelajari dan menggali sesuatu sesuai pilihannya.

Setelah guru mengetahui gaya belajar siswa, guru bisa memilih dan memvariasikan metode dalam pembelajaran.Sehingga, tiap siswa bisa mencari pengetahuan berdasarkan gaya mereka masing-masing.

 

Sumber yang dipakai:

Ghofur, S., Atmojo, KT., & Suryono. Tanpa Tahun. Efektifitas pembelajaran dengan pendekatan kontekstualvdan pendekatan pemecahan masalah ditinjau dari gaya belajar pada siswa sekolah menengah pertama. Di kabupaten bojonegoro. (Online)(http://jurnal.pasca.uns.ac.id/index.php/mat/article/download/362/273., diakses 26 Desember 2013)

Kolb, DA., & Kolb, AY. 2005. Learning Styles and Learning Spaces: Enhancing Experiential Learning in Higher Education. Jurnal Academy of Management Learning & Education. 2005, Vol. 4, No. 2, 193-212.

Kurnia, VU. 2013. Empat Kompetensi Guru Profesional. (Online) (http://koffieenco.blogspot.com/2013/07/4-kompetensi-guru-profesional.html., diakses 26 Desember 2013).

McLeod, S. 2010. Kolb-Learning Style. (Online)(http://www.simplypsychology.org/learning-kolb.html., Diakses 27 Desember 2013).